Sumba Barat Daya

Sumba Barat Daya

Rabu, 14 April 2010

APLIKASI PENGOBATAN SCABIES PADA TERNAK KAMBING DI DESA CAMPLONG II WILAYAH SIBERMAS KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG

OLEH :
Melkianus D.S Randu, S.Pt
Drh. Ewaldus Wera


A.Analisis Situasi :
Kabupaten Kupang merupakan suatu bagian integral dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah ini terletak antara 12130 - 12411 Bujur Timur dan 919 - 1057 Lintang Selatan dengan ketinggian 60-560 meter dari permukaan laut. Letak geografis menunjukkan bahwa kabupaten Kupang termasuk dataran tendah yang terletak di sekitar khatulistiwa dengan luas wilayahnya  733,861 ha (wilayah daratan) yang mencakup 5 pulau besar dan 95 pulau kecil. Sementara pulau yang dihuni baru 16 buah dan secara administratif kabupaten Kupang terdiri dari 21 kecamatan dan salah satunya adalah kecamatan Fatuleu.

Kecamatan Fatuleu mempunyai Luas wilayah  987,52 km² yang terdiri dari 10 desa dan 1 kelurahan dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Amfoang Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kupang Timur, sebelah Timur dengan Kecamatan Takari dan sebelah Barat dengan Kecamatan Sulamu. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Fatuleu dengan rata-rata 30 jiwa km². Kecamatan ini berjarak 41 km dari kota Kupang dan menjadi lokasi penerapan program Sibermas untuk tahun 2003-2005. Kondisi sarana transportasi cukup baik sehingga dapat menjangkau seluruh desa dalam wilayah Kecamatan Fatuleu setiap saat.

Iklim di wilayah kecamatan Fatuleu sama halnya dengan iklim di kabupaten Kupang atau dengan kecamatan lain yaitu iklim kering yang dipengaruhi oleh angin Muson dengan bulan basah 3-4 bulan ( Desember-April ) dan bulan kering 8-9 bulan (April-November).

Penduduk Kecamatan Fatuleu terdiri atas 6.552 KK dengan jumlah 29.800 jiwa terdiri atas 15.170 jiwa laki-laki dan 1.430 jiwa perempuan (Fatuleu Dalam Angka,2000). Penduduk pada tingkat sejahtera 711 KK. Pra sejahtera 1.791 KK dan miskin 4.120 KK. Tingkat pendidikan penduduk masing-masing tidak atau belum pernah sekolah 1.747 jiwa, tamat SD 12.235 jiwa, tamat SLTP 6.641 jiwa, tamat SMU 3.548 jiwa, tamat Diploma 112 jiwa, dan tamat Sarjana 57 jiwa (Fatuleu Dalam Angka,2001).

Penggunaan khusus untuk pertanian di Kecamatan Fatuleu terdiri atas tanah sawah 308 ha dengan pengairan sederhana, 76 ha tadah hujan. Sedangkan tanah kering untuk pekarangan 2.399 ha. Tegalan/kebun 2.435 ha, ladang 7.137 ha, padang penggembalaan 17.732 ha, kolam 2,80 ha, hutan rakyat 3.848 ha yang lain adalah pemukiman dan tanah terlantar.

Hasil utama dari bidang pertanian tanaman pangan adalah jagung, ubi singkong, padi sawah / ladang, ubi jalar, kacang tanah, sayur-sayuran dan buah-buahan. Tanaman buah-buahan yang dominan adalah pisang dan mangga, jambu mete,kelapa. Selain itu terdapat pula jenis hasil pertanian yang diusahakan masyarakat, tetapi jumlah terbatas.

Keperluan air untuk irigasi pertanian terutama dari air hujan dan air dari sungai Barate yang pemanfaatannya belum maksimal untuk bidang pertanian. Selain sumber air sungai, juga terdapat 77 bendungan, 5 cekdam yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk air konsumsi manusia dan ternak serta usaha holtikultura.

Permukaan tanah umumnya berbukit-bukit, bergunung-gunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan tingkat kemiringan mencapai 15 % ke atas, ketinggian dari permukaan laut 0 – 500 m (89,85 %) dan lebih dari 500 m (10,15 %). Jenis tanah yang dijumpai di wilayah Kabupaten Kupang yaitu entisol, inseptisol dan vertisol.

Mata pencaharian masyarakat Fatuleu terutama dari bidang pertanian 29.800 jiwa, yang bermata pencaharian petani peternak 12.341 orang, PNS 410 orang, Pegawai Swasta 6 orang, Polisi 8 orang, Wiraswasta 112 orang dan Pensiunan 21 orang.

Pemasaran hasil pertanian yang dilakukan masyarakat Fatuleu dengan memanfaatkan pasar local yang ada di desa ataupun di Kecamatan. Adapula petani yang langsung menjual hasil usahanya ke pasar di ibu kota Kabupaten atau Propinsi NTT.Hasil-hasil pertanian yang diperoleh dapat dijual kepada pedagang pengumpul yang datang ke lokasi pertanian.

Lahan kawasan hutan di Kecamatan Fatuleu terdiri dari 35.925 ha hutan negara dan 2.838 ha hutan rakyat. Produksi hasil hutan bambu 150.000 batang, kayu bakar 450 m³, kayu gelondongan 1.300 m³, kayu jati 500 m³,kayu rimba bulat 30 m³ dan asam 45 ton.

Jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat Fatuleu adalah sapi, kerbau, kuda, kambing, babi, ayam dan itik. Sistem pemeliharaannya lebih didominasi ekstensif tradisional. Ada masyarakat yang jumlah pemilikan ternak tertentu dari 1-10 ekor. Populasi ternak di Kecamatan Fatuleu dirinci sebagai berikut : itik 3.521 ekor, sapi 7.740 ekor, kerbau 38 ekor, kuda 473 ekor, kambing 3.759 ekor, babi 19.267 ekor dan ayam buras 70.268 ekor.

Di bidang peternakan kendalanya adalah ternak dipelihara secara ekstensif tradisional dimana untuk desa camplong II antara wilayah pertanian-peternakan belum tercipta perwilayahan komoditas dengan jelas. Hal ini mengakibatkan Perkembangbiakan ternak terjadi secara alamiah selain belum terjadwalnya manajemen pengendalian dan pengobatan penyakit sehingga banyak ternak mati.

Salah satu jenis penyakit yang sering dijumpai di desa camplong II adalah penyakit scabies dan banyak menimbulkan kematian pada ternak kambing. Keadaan ini diperparah lagi dengan minimnya Sumber Daya Manusia terutama tenaga medis hewan yang mendampingi petani ternak dalam mengatasi penyakit hewan pada umumnya dan penyakit scabies pada khususnya.

Mengatasi berbagai kendala di atas tentunya dibutuhkan peran serta berbagai pihak mulai dari perguruan tinggi, pemda serta masyarakat. Diharapkan dengan adanya pendekatan-pendekatan yang melibatkan berbagai pihak dengan berbagai sumbangan pemikiran, dapat meminimalkan angka kesakitan ternak akibat penyakit scabies sekaligus sebagai sebuah informasi penting bagi masyarakat di dalam mengelola suatu usaha peternakan yang baik dan hygienis.

B.Tinjauan Pustaka :
Dewasa ini peningkatan produksi dan populasi ternak harus medapatkan perhatian yang serius , karena kebutuhan masyarakat akan protein hewani semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan perkapita. Untuk itulah perlu adanya upaya peningkatan produksi ternak penghasil daging, susu dan telur guna mempercepat tercapainya patokan gizi yang diperlukan. Dalam hal ini ternak kambing merupakan salah satu jenis ternak yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani bagi masyarakat.

Beternak kambing sangat menguntungkan karena dapat memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat. Namun untuk mengembangkan ternak kambing, terdapat beberapa hal yang perlu ditanggulangi. Salah satunya adalah penyakit parasit. Kerugian akibat parasit pada hewan ternak mencakup pertumbuhan yang terhambat, penurunan bobot badan, penurunan daya kerja dan reproduksi serta dibuangnya bagian-bagian tubuh yang rusak. Kerugian ekonomi yang diderita oleh petani ternak akibat parasit, belum diketahui secara pasti. Namun, diduga cukup besar yaitu 250 miliar rupiah tiap tahun, menurut perhitungan direktorat jenderal peternakan tahun 1985 (Kusumamihardja, 1992).

Salah satu jenis penyakit parasit yang mempunyai dampak kerugian ekonomis dan banyak menyerang ternak kambing di wilayah kabupaten Kupang adalah penyakit scabies atau kudis. Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau sarcoptes scabiei dan bisa menular dari ternak yang terinfeksi ke ternak lain serta bersifat zoonosis(bisa menular ke manusia). Umumnya pada ternak yang terinfeksi penyakit ini akan mengalami gangguan rasa nyaman, gelisah, tidak dapat istirahat, dan nafsu makan menurun karena rasa gatal yang berat sebagai akibat dari sifat tungau yang merusak jaringan tubuh serta menghisap darah dari hospesnya sehingga mengakibatkan produksi dan produktivitas ternak menurun (Randu, 2002).

Penyakit Scabies dapat menyerang ternak kambing yang dipelihara pada kandang yang sangat kotor akibat kurang terawat, pada kondisi lingkungan yang tidak hygienes dan pada ternak yang mempunyai kondisi tubuh jelek. Gejala klinis dari penyakit scabies ini adalah gatal-gatal pada daerah yang terserang, kulitnya merah menebal, berkeropeng-keropeng, bulunya rontok, dan badannya kurus. Rasa gatal biasanya dimulai dari bagian kepala, bibir, dan berlanjut pada bagian tubuh lain yang terserang. Selanjutnya efek yang ditimbulkan berupa kerusakan kulit, kekurusan dan kematian (Sarwono, 1990).Penyakit scabies akan ditularkan melalui kontak dengan penderita atau obyek yang terkontaminasi. Umumnya hewan yang terkena scabies akan gelisah dan menggosok-gosokkan badan ke pohon-pohon di dekatnya (Anonimous, 1978). Luka akibat gosokkan pada pohon tersebut biasanya diikuti oleh infeksi sekunder sehingga perlu penanganan dengan obat anti bacterial (antibiotik).

Pengobatan Scabies.
Menurut Mulyono (1999) pencegahan penyakit scabies dapat dilakukan dengan sanitasi kandang dan lingkungannya, di samping dapat juga diobati dengan berbagai cara. Beberapa obat tradisional telah digunakan untuk pengobatan scabies seperti campuran belerang dan minyak kelapa. Belerang dipercaya oleh masyarakat dapat mematikan tungau Sarcoptes scabiei Karena kandungan sulfurnya, sedangkan minyak kelapa dipercaya sebagai bahan pencampur obat-obatan karena kegunaannya sebagai pelarut untuk melarutkan belerang disamping berperan dalam proses reabsorbsi obat ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit. Hasil penelitian Randu, 2002 membuktikan bahwa campuran belerang dan minyak kelapa dapat menyembuhkan penyakit scabies pada ternak kambing.

Selain obat-obatan di atas, alternatif lain yang dapat digunakan dalam pengobatan penyakit scabies adalah dengan menggunakan pengobatan modern berupa ivermectin yang merupakan obat anti parasit dan mempunyai efek terhadap berbagai jenis parasit pada hewan. Mekanisme kerja ivermectin di dalam tubuh adalah mengganggu aktivitas aliran ion klorida pada system saraf antropoda. Preparat ini dapat terikat pada reseptor yang meningkatkan permeabilitas membran parasit terhadap ion klorida, sehingga akan mengakibatkan saluran klorida terbuka dan mencegah pengeluaran neurotransmitter Gama Amino Ostinic Acid. Sebagai akibatnya transmisi neuromuskuler akan terblokir dan polaritas neuron akan terganggu, sehingga menyebabkan terjadinya kematian dari parasit. Keampuhan obat ini telah digunakan untuk mengobati penyakit scabies pada ternak kambing (Randu, 2002).

C. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan analisis situasi di atas, maka dirumuskan beberapa masalah yang dihadapi sebagai berikut:
1.Sistem pemeliharaan ternak yang bersifat ekstensif tradisional menyulitkan petani ternak dalam melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit scabies.
2.Belum optimalnya kemampuan masyarakat terutama tentang tata cara pengobatan yang baik dan efisien terutama dosis dan cara aplikasi/pemberian obat.
3.Penyakit yang sering di jumpai di wilayah kabupaten Kupang adalah penyakit scabies.
4.Kurangnya tenaga medis yang mendampingi petani ternak dalam mengatasi penyakit hewan pada umumnya dan penyakit scabies pada khususnya.

D. Tujuan Kegiatan
Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah :
1.Memperkenalkan dan menggalakkan cara pencegahan serta pengendalian penyakit scabies pada ternak kambing yang berada di desa camplong II wilayah Sibermas kecamatan Fatuleu, kabupaten Kupang.
2.Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani ternak tentang tata cara pengobatan scabies menggunakan obat tradisional maupun dengan obat paten.
3.Membebaskan ternak dari penyakit scabies melalui pengobatan massal selama proses pengabdian berjalan.

E. Manfaat kegiatan
Dengan berakhirnya kegiatan pengabdian pada masyarakat lewat penyuluhan dan demonstrasi pengobatan scabies ini, maka manfaat yang diharapkan adalah:
1.Petani ternak mampu melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit scabies.
2.Petani ternak terampil melakukan pengobatan scabies baik dengan obat tradisional maupun dengan obat-obatan modern (obat paten).
3.Meningkatnya jumlah ternak yang sehat sehingga produksi dan produktivitas ternak akan meningkat yang hasil akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani ternak.

F. Kerangka Pemecahan Masalah
Pendekatan yang dilakukan dalam rangka pemecahan berbagai permasalahan tersebut di atas sehubungan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah kegiatan penyuluhan, demonstrasi dan pengobatan massal dengan melibatkan petani ternak.
Keberhasilan pendekatan di atas nantinya tercermin dengan meningkatnya jumlah populasi ternak bebas scabies. Dengan demikian produksi dan produktivitas ternak secara optimal dapat dicapai dan tujuan utama peningkatan pendapatan petani ternak lewat usahanya dapat diperoleh secara lebih memuaskan. Dilain pihak Sumjber Daya Manusia (SDM) petani ternak dapat lebih ditingkatkan.
H. Khalayak Sasaran Antara yang Strategis
Petani yang usaha tani pokoknya padi sawah dengan usaha sambilan adalah beternak kambing dipilih sebagai khalayak sasaran utama dalam kegiatan pengabdian ini, dengan catatan sudah berpengalaman dalam memelihara ternak kambing. Dengan demikian diharapkan tingkat keberhasilan pembinaan akan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang belum pernah memelihara ternak. Khalayak sasaran lainnya adalah para pemuda desa atau remaja putus sekolah dengan pertimbangan dimasa-masa mendatang merekalah sebagai kader-kader pembangunan desa. Diharapkan sekitar 50 orang petani ternak dapat dihimpun dan dibina dalam kegiatan ini yang diambil dari setiap dusun Dari desa camplong II Kecamatan Fatuleu (sebagai lokasi pengabdian).

G.Keterkaitan
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, akan dibina kerjasama yang semakin baik dengan instansi terkait dalam hal ini Dinas Peternakan Kecamatan Fatuleu maupun Dinas Peternakan kabupaten Kupang.
Dalam merintis usaha pengabdian ini, maka pemerintah kecamatan setempat dapat merupakan lembaga yang secara langsung membina petani ternak yang ada di wilayahnya, karena fungsinya sebagai suatu lembaga organisatoris formal. Setelah kegiatan pengabdian ini dilaksanakan, diharapkan peran aktif pembinaan dilanjutkan oleh petugas mantri hewan yang ada di wilayah tersebut bekerjasdama dengan aparat desa maupun kecamatan.

H. Metode Kegiatan.
Kegiatan yang akan dilaksanakan ini adalah berbentuk pendidikan kepada masyarakat dengan mengadakan penyuluhan yang akan disampaikan dalam bentuk ceramah dan diskusi serta kaji tindak dengan demonstrasi (percontohan ) pengobatan scabies maupun pengobatan secara massal menggunakan beberapa cara yang telah disuluhkan yang sesuai dengan kondisi daerah sasaran.

1.Model Kegiatan.
Model kegiatan yang direncanakan adalah dalam bentuk pendidikan kepada masyarakat dengan cakupan materi yang akan disuluhkan meliputi: Jenis-jenis penyakit yang menyerang ternak kambing, pengenalan penyakit scabies pada ternak kambing, langkah-langkah preventif terhadap kemunculan penyakit scabies pada ternak kambing, upaya identifikasi penyakit scabies, pengenalan berbagai macam obat scabies, Penanganan dan pengobatan penyakit scabies pada ternak kambing, Analisis usaha peternakan kambing, manajemen pemeliharaan ternak kambing yang efisien.
Kegiatan kerjasama yang dilakukan adalah bimbingan kepada petani ternak berupa demonstrasi atau percontohan (pengobatan scabies pada ternak kambing) dan melakukan pengobatan massal yang melibatkan petani ternak.

2.Sifat kegiatan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bersifat perintisan dalam hal memperkenalkan metode-metode atau cara-cara pengobatan scabies yang efektif dan efisien. Diharapkan dengan adanya tambahan pengetahuan tentang topik materi di atas, maka permasalahan yang dihadapi petani ternak di desa camplong II Kecamatan Fatuleu dapat teratasi, termasuk didalamnya merintis terciptanya petani ternak yang terampil dalam mencegah dan mengobati penyakit scabies khususnya pada ternak kambing.


I. Rancangan evaluasi.

Evaluasi akan dilakukan terhadap seluruh aspek kegiatan sejak awal, selama penyelenggaraan hingga akhir kegiatan untuk mengetahui tingkat keaktifan dan keberhasilan kegiatan dengan beberapa kriteria sebagai berikut :
1.Kehadiran dari peserta yang diundang, bila 75 % dari peserta tersebut hadir, mengikuti dan mempraktekkan sendiri, maka dapat dikategorikan kegiatan tersebut berhasil.
2.Keaktifan, yang dinilai adalah dengan menciptakan sistem komunikasi timbal balik yaitu mengadakan diskusi dan tanya jawab terhadap para peserta baik pada saat ceramah dan diskusi maupun pada waktu kegiatan percontohan (demonstrasi).
3.Evaluasi lanjutan dilakukan setelah kegiatan percontohan berlangsung , kira-kira 1 bulan kemudian terlihat sudah ada peserta yang melakukan sendiri pengobatan scabies untuk ternaknya tanpa adanya bimbingan dari tim penyuluh.
Bila setelah melakukan evaluasi ternyata kegiatan ini berhasil, maka akan dilaksanakan kegiatan yang sama pada masyarakat petani ternak di daerah lain yang merupakan daerah endemis scabies dan sistenm pemeliharaan ternaknya masih bersifat ekstensif tradisional bila ditunjang oleh biaya yang disediakan.

L. Rencana dan Jadwal Kerja.
No Jenis Kegiatan B u l a n
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Koordinasi dan pemantapan rencana kerja xx
2 Penyiapan alat dan bahan xx
3 Penyuluhan dan pelatihan xx x
4 Pengobatan massal xx xxx
5 Pemantauan dan pendampingan kegiatan pengobatan xxxx xxxx xxxx xxxx
6 Diskus / konsultasi /
monitoring xx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx x
7 Seminar hasil x
8 Pembuatan laporan xx
Keterangan : x = minggu

Selasa, 30 Maret 2010

PERKANDANGAN TERNAK KAMBING DAN DOMBA

Perkandangan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan tingkat keberhasilan suatu usaha peternakan kambing dan domba. Perkandangan yang sering tidak memenuhi kaidah dan fungsi yang sesungguhnya, cenderung akan merugikan baik terhadap ternak itu sendiri, manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu, pengetahuan yang komprehensif tentang perkandangan perlu diketahui sebagai upaya bagi peningkatan produktivitas ternak kambing dan domba yang dipelihara sekaligus mengurangi dampak negatif pecemaran lingkungan sekitarnya.
Membangun kandang untuk ternak kambing dan domba sama seperti membangun rumah untuk tempat tinggal manusia, sehingga secara hakekat normative harus sama. Pembangunan kandang memerlukan keterampilan dan keseriusan. Tujuannya adalah untuk menciptakan desain kandang yang sempurna bagi kambing dan domba yang dipelihara atau akan dipelihara agar benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi ternak kambing dan domba itu sendiri. Prinsipnya adalah konstruksi kandang harus dapat membuat kambing merasa nyaman dan aman. Kondisi ini tentunya akan menjadikan kambing dan domba berproduksi secara normal.

PEMBAHASAN :

a. Fungsi kandang bagi ternak kambing dan domba.
Kandang merupakan sebuah bangunan atau tempat yang dibuat bagi ternak agar dapat hidup, bertumbuh dengan sehat dan aman, serta dapat terkontrol dari penyakit dan aktivitas reproduksinya.
Bagi ternak kambing dan Domba, bangunan kandang harus memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut :

- Melindungi ternak kambing dan domba dari sinar matahari yang berlebihan, angin, hujan, penyakit dan predator.

- Melindungi ternak kambing dan domba dari bahaya-bahaya luar, seperti pencuri, hewan-hewan liar sebagai pemangsa maupun pembawa penyakit.

- Memudahkan dalam melakukan tatalaksana pemeliharaan, penanganan limbah dan aktifitas keseharian kambing seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran.

- Kandang dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak.

- Sebagai tindakan preventif agar supaya kambing tidak merusak taneman dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing dan memanfaatkan serta mengefisienkan lahan yang sempit.
b. Syarat dan Lokasi kandang untuk pemeliharaan ternak kambing dan domba.

Sesuai dengan fungsinya untuk memberikan kenyamanan bagi ternak, manusia dan lingkungan, maka pembuatan kandang harus direncanakan secara baik dan memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut :
1. Kandang dibuat di daerah yang relatif tinggi dari daerah sekitarnya (Agar air hujan tidak tergenang), tidak lembab serta jauh dari kebisingan.
2. Pertukaran udara baik sehingga udara dalam kandang selalu segar.
3. Sinar matahari pagi diusahakan masuk dalam kandang, oleh karena itu kandang sebaiknya menghadap timur. Sinar matahari Berguna untuk : membunuh bibit penyakit, membantu proses pembentukan Vitamin D dan mengurangi kelembaban kandang
4. Kandang dan lingkungnnya harus mudah dibersihkan serta diupayakan semaksimal mungkin untuk menggunakan bahan-bahan lokal yang murah.
5. Letak kandang paling kurang 10 m dari perumahan.
6. Jauh dari sumber mata air yang dipergunakan masyarakat sehingga kotoran ternak tidak mencemari air.
7. Cukup kuat dan tahan lama.

Selain itu ada juga beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam memilih lokasi untuk pemeliharaan ternak kambing dan domba, sebagai berikut :

1. Mudahnya komunikasi.
Usahakan agar areal yang dipilih mudah untuk mengadakan hubungan ke luar demi memperoleh informasi, terutama dalam memperlancar usaha dan pemasaran.

2. Mudahnya Transportasi.
Angkutan antara lokasi terpilih dengan sumber-sumber bahan baku dan pasar hasil produksi, mudah, cepat, biaya murah, tidak menyebabkan rusak atau susut banyak terhadap produk.
3. Potensi alam yang menunjang
- Faktor iklim: suhu (temperatur) lingkungan, kelembaban, ketinggian tempat, kecepatan angin, harus sesuai dengan kondisi fisiologik yang optimum bagi ternak.
- Tidak jauh dari sumber air. Air bagi ternak sangat vital
4. Tenaga kerja (pegawai) : mudah diperoleh dan murah
5. Tanahnya cukup subur : terutama untuk usaha ternak yang
membutuhkan hijauan
6. Terisolir : tidak terlalu dekat dengan kandang ternak lain dan dengan pemukiman penduduk.

c. Konstruksi kandang ternak kambing dan domba yang baik.
Sebagai tempat bertumbuh dan berkembangnya ternak kambing dan domba maka konstruksi kandang harus memenuhi persyaratan teknis dan kebutuhan ternak. Konstruksi kandang pada masing-masing bagian dapat disarankan, sebagai berikut :

1. Atap.
Atap sebagai pembatas kandang bagian atas memegang peranan yang besar sebagai pelindung terhadap hujan, terik sinar matahari dan pengatur panas dalam kandang. Panas dalam kandang sebagian besar berasal dari atap dan hilang juga melalui atap. Oleh karena itu bahan dan konstruksi atap perlu mendapat perhatian.

Peranan bahan atap terletak pada daya pantul, penghantaran panas, dan keawetannya. Suatu contoh bahan atap seng, mempunyai daya pantul yang tinggi namun daya hantar panas dan radiasinya sangat besar sehingga ruangan kandang sangat panas pada waktu terik, & dingin pada waktu malam. Asbes yang baru mempunyai daya pantul dan penghantar panas yg baik namun mudah berubah setelah digunakan beberapa saat.

Bahan atap yang termasuk baik adalah genteng, karena tahan lama, menghantar panas dan radiasi yang kecil. Genteng sangat baik menahan panas sehingga dapat mempertahankan suhu kandang konstan, aliran udara bisa melalui celah, lagi pula kecil kemungkinan dijadikan sarang tikus atau binatang lain.
Bahan sirap juga sangat baik, hanya harganya cukup mahal. Atap dari daun nipah, rumbia, alang-alang sangat baik untuk memelihara suhu dalam kandang, harganya murah, namun tidak dapat tahan lama.

Konstruksi atap dapat dibuat berbentuk huruf A (miring ke kanan dan kiri) atau dapat dibuat miring ke belakang (untuk atap seperti ini bagian depan kandang harus lebih tinggi dari belakang).

2. Ventilasi.
Ventilasi adalah jalan keluar-masuknya udara sehingga udara segar dari luar dapat masuk menggantikan udara kotor di dalam kandang. Hanya ventilasi yang baik yang bisa memberikan kemungkinan meningkatkan taraf kesehatan, pertumbuhan, dan efisiensi penggunaan ransum.

Lubang ventilasi yang baik berguna untuk :

- Mempermudah udara kotor (CO2 dan NH3) keluar dari kandang dan diganti dengan udara segar dari luar.
- Mengurangi suasana panas dan pengap dalam kandang.
Ventilasi yang tidak baik menyebabkan kadar O2 dalam kandang berkurang, CO2 uap air, NH3' dan gas-gas lain hasil proses pembusukan menjadi meningkat sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Hal ini mengakibatkan ternak menjadi sesak nafas, menurunnya konsumsi ransum, kekurangan darah, efisiensi ransum jelek, setelah itu pertumbuhan dan produksi menjadi turun.

Besar kecilnya ventilasi bisa dipengaruhi oleh sistem atap, tinggi kandang atau pemasangan kipas secara khusus

3. Lantai Kandang.
Berfungsi sebagai tempat berpijak, berbaring dan beraktivitas. Untuk memenuhi fungsi tersebut maka lantai kandang harus dibuat rata, tidak keras, tidak licin, tidak mudah tembus air, tahan lama dan tidak cepat panas atau dingin.

Lantai kandang pada pokoknya ada dua macam yaitu sistem lantai padat yaitu lantai kandang yang langsung rapat dengan tanah dan digunakan untuk tipe kandang lemprak atau berlantai, dan sistem lantai bercelah yaitu lantai dengan alas yang berlubang untuk lewatnya kotoran dan digunakan pada tipe kandang panggung..
Ternak kambing dan domba umumnya cenderung menggunakan lantai kandang bercelah. Jenis lantai kandang bercelah ini bisa berbentuk alur, sistem wire (ram kawat) atau kombinasi antara litter dan wire.
Lantai kandang bercelah ini bertujuan agar keadaan lantai selalu bersih karena kotoran bisa jatuh ke kolong kandang, disamping peredaran udara lebih terjamin karena bagian bawah lantai ditembusi angin. Namun demikian biaya dan tenaga untuk membuat lantai kandang relative lebih besar disamping perlunya waktu ekstra untuk memperhatikan alas penampung kotoran. Bahan lantai bisa terbuat dari kayu, bambu, kawat atau pelat besi yang berlubang. Besar lubang perlu diperhitungkan sehingga kaki ternak tidak terperosok. Lebar celah pada umumnya 1,5 – 2,0 cm.

4. Dinding Kandang.
Berfungsi sebagai pelindung ternak dari gangguan luar dan penghalang agar ternak tetap berada di dalam kandang. Dengan demikian dinding kandang harus terbuat dari bahan yang kuat dan memberikan kondisi nyaman bagi lingkungan kandang.
Pada daerah panas kontstruksi kandang sebaiknya terbuka, kecuali pada waktu melahirkan dan anak prasapih, tidak seluruh kandang terbuka.
Bahan dinding terbuat dari kayu, bambu, atau besi. Jarak antara dinding selebar 5-10 cm untuk meminimalkan resiko saling mengganggu antar sesama ternak. Pada bagian depan khususnya tempat makan, jarak antar dinding dibuat lebih lebar sekitar 20-30 cm sehingga kepala ternak dapat dengan leluasa mengambil makanan.

5. Posisi Kandang.
Untuk mendapatkan cukup sinar matahari pagi secara langsung dan untuk menghindari teriknya sinar matahari waktu siang, posisi kandang sebaiknya dibuat menghadap ke timur. Dengan demikian sinar matahari sebagai pembunuh kuman dan pengering kandang dapat dimanfaatkan secara optimal.

6. Kolong Kandang.
Sebagai tempat untuk menampung kotoran, air kencing dan sisa-sisa pakan yang jatuh dari kandang, maka sebaiknya tanah dasar kolong digali sedalam 40 -50 cm dengan tujuan agar semua bahan yang jatuh dari kandang tidak tercecer keluar. Tanah bekas galian kolong kandang ditata sedemikian rupa sehingga merupakan benteng atau penghalang yang dapat mencegah air hujan masuk dan tergenang di bawah kandang. Ukuran tinggi kolong kandang yang disarankan adalah 50-70 cm dari permukaan tanah.
d. Tipe dan Ukuran Kandang Ternak Kambing dan Domba.
Pada hakekatnya tipe kandang untuk ternak kambing dan domba dapat dibedakan menjadi 2 (Dua) tipe, yaitu :

a. Tipe Kandang Panggung.
Kandang panggung merupakan kandang yang konstruksi lantainya dibuat sistem panggung. Kandang ini memiliki kolong yang berguna sebagai tempat penampungan kotoran. Kandang ini dapat dibuat tunggal atau ganda dengan posisi saling membelakangi. Alas kandang harus dibuat dari bahan yang tahan lapuk seperti kayu / bambu yang sudah diawetkan. Celah lantai panggung ± 1,5 - 2 cm agar kotoran mudah jatuh dan kaki ternak tidak terperosok.

Kelebihan kandang ini : Kotoran & kencing mudah mengalir sehingga kebersihan kandang terjaga; lantai kandang tidak becek sehingga kelembapan dapat dihindari; perkembangbiakan kuman penyakit, cendawan dan parasit dapat ditekan.

Kelemahan kandang ini : Biaya pembangunan kandang sangat mahal; resiko kecelakaan jika lantai kandang sudah lapuk; kandang memiliki beban sehingga apabila konstruksinya tidak baik dapat menimbulkan kecelakaan.

b. Tipe Kandang Lemprak.
Merupakan tipe kandang yang sering digunakan untuk usaha penggemukan/kereman. Kandang ini tidak dilengkapi dengan alas kayu tetapi hanya beralaskan jerami atau rumut kering dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang ini juga tidak dilengkapi dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan di atas alas. Pemberian pakan sengaja diperbanyak agar didapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran tersebut akan dibongkar setelah ± 1-6 bulan.
Kelebihan kandang ini : Biaya pembuatan kandang murah karena konstruksinya yang sederhana; Resiko kecelakaan lebih kecil dari kandang panggung.

Kelemahan kandang ini : Tidak terdapat tempat penampungan kotoran yang khusus sehingga kebersihan kandang kurang terjamin. Dengan demikian kandang harus selalu dibersihkan; Lantai kandang sering becek dan lembab sehingga merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kuman, cendawan dan parasit yang merugikan ternak kambing dan domba ; Kesehatan ternak kurang terjamin karena lebih mudah terserang penyakit.

Ukuran Kandang Kambing dan Domba.

@. Kandang induk.
Merupakan tempat bagi ternak kambing dan domba untuk beristirahat, makan, tidur dan membuang kotoran. Ukuran kandang induk/utama, per ekor ternak kambing dan domba adalah 1 x 1 meter.

@. Kandang induk dan anaknya.
Merupakan kandang yang khusus digunakan untuk seekor induk yang sedang menyusui anaknya sampai anaknya disapih (± 3 bulan). Untuk bagian kandang ini Seekor induk kambing dan domba memerlukan luasan kandang sebesar 1,5 x 1 m dan untuk anak membutuhkan luas 0,75 x 1 m.

@. Kandang Pejantan.
Merupakan kandang yang khusus digunakan untuk seekor jantan pemacek. Kandang untuk ternak kambing dan domba jantan sebaiknya cukup luas, memperoleh sinar matahari pagi dan udara segar serta bersih. Selain itu diusahakan agar kandang domba jantan pemacek terpisah dari kandang domba lainnya, tetapi tidak terlalu jauh dengan kandang kambing atau domba betina lainnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak gaduh dan terjadi perkelahian. Dianjurkan kandang pemacek dibuat bersekat-sekat. Luas kandang yang diperlukan untuk seekor kambing dan domba jantan pemacek adalah 1 x 1,5 m.

@. Kandang Kawin.
Merupakan kandang yang khusus digunakan untuk proses perkawinan ternak kambing dan domba. Kandang tersebut sebaiknya cukup luas dengan ukuran minimal 4 x 6 m atau digunakan untuk kapasitas tampung 4 ekor : 1 ekor pejantan dengan 3 ekor betina. Kandang ini digunakan untuk menampung ternak kambing dan domba betina yang diduga sedang berada dalam masa berah untuk dikawinkan. Umumnya pada perkawinan alamiah, betina tersebut akan ditempatkan bersama pejantan selama satu kali periode berahi/estrus.

e. Perlengkapan-perlengkapan ternak kambing dan domba.

Dalam budidaya ternak kambing dan domba, ada beberapa peralatan kandang yang harus selalu ada dan dibutuhkan dalam sebuah lokasi kandang kambing dan domba.Yang dimaksud dengan peralatan kandang disini adalah alat-alat yang penggunaannya dikhususkan di kandang. Berbagai Peralatan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tempat makan / Palung makanan.
Merupakan tempat makanan di dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa sehingga bahan pakan yang diberikan tidak tercecer. Pada palung / tempat makanan ini juga perlu disediakan ember untuk pemberian air minum.


2. Gudang makanan.
Merupakan tempat penyimpanan sementara untuk pakan yang belum diberikan kepada ternak. Umumnya gudang pakan akan disimpan konsentrat maupun hijauan yang belum diberikan. Penanganan khusus terhadap hijauan perlu dilakukan. Hijauan pakan yang disimpan dalam gudang sebaiknya tidak dalam ikatan agar tidak mengalami fermentasi yang menimbulkan panas dan akan mengurangi kualitas hijauan. Demikian pula terhadap makanan penguat hendaknya disimpan pada tempat yang terhindar dari proses pembusukan dan serangan hama.

3. Tempat Umbaran.
Merupakan bagian dari kelengkapan sistem perkandangan ternak kambing dan domba. Tempat umbaran ini digunakan sebagai tempat excersice ketika kandang sedang dibersihkan. Tempat umbaran akan sangat bermanfaat bagi ternak kambing dan domba yang tidak pernah digembalakan (intensif) sehingga kesehatannya selalu terjaga sekaligus merupakan tempat olahraga atau jalan-jalan bagi induk yang sedang bunting. Kesulitan induk untuk beranak (Distokia) umumnya sering disebabkan akibat kurangnya aktivitas bergerak dari induk yang sedang bunting.

4. Tempat kotoran.
Merupakan perlengkapan kandang yang sedah sewajarnya tersedia. Pada kandang tipe lemprak, sisa makanan atau kotoran akan menumpuk jadi satu dan sangat mengganggu kesehatan. Sebaliknya pada tipe panggung, kotoran akan tertumpuk pada kolong kandang sehingga akan mudah diolah untuk pembuatan pupuk.. Oleh sebab itu jarak lantai kandang tidak boleh terlalu rapat.

Senin, 29 Maret 2010

UNSUR-UNSUR PENYULUHAN PERTANIAN

Kompetensi Umum : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini selama satu semester, mahasiswa dapat mendesain dan melaksanakan suatu kegiatan penyuluhan.
Kompetensi Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan tentang :
1. Sumber Penyuluhan pertanian
2. Materi Penyuluhan pertanian
3. Metode Penyuluhan pertanian
4. Sasaran Penyuluhan pertanian
Waktu : 2 x 60 menit
Pokok Bahasan : Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian
Pertemuan : IV dan V


PEMBAHASAN

@. Pengertian Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian.
Unsur-unsur penyuluhan pertanian yaitu semua faktor yang terlibat dalam kegiatan penyuluhan pertanian dan bersifat saling menunjang. Dalam artian, antara faktor yang satu dengan faktor yang lain tidak dapat dipisahkan. Yang termasuk unsur-unsur penyuluhan pertanian, adalah sebagai berikut :
a. Sumber Penyuluhan Pertanian (Tenaga Penyuluh)
b. Materi Penyuluhan Pertanian
c. Metode Penyuluhan Pertanian
d. Sasaran penyuluh Pertanian

@. Sumber Penyuluhan Pertanian (Tenaga Penyuluh).
Penyuluh pertanian adalah orang yang bertugas memberikan dorongan kepada para petani sehingga terjadi perubahan cara berpikir, cara bekerja dan cara hidupnya dengan memanfaatkan berbagai teknologi pertanian terbaru yang relevan dengan kondisi jaman dan lingkungan sosial.

Seorang tenaga penyuluh harus mempunyai 3 peranan penting, yaitu;
a. Sebagai fasilitator, memberikan pengetahuan, fasilitas atau cara-cara baru dalam bertani/beternak sehingga petani lebih terarah dalam meningkatkan usahanya.
b. Sebagai mediator, menghubungkan kepentingan lembaga pemerintah / lembaga penyuluhan dengan sasaran penyuluhan sehingga terjadi perubahan pola pikir dan pola kerja dalam kaitannya mensukseskan program pemerintah..
c. Sebagai dinamisator, menimbulkan perubahan melalui pelayanan, peragaan atau contoh, pemberian petunjuk serta motivasi kepada petani/peternak.

Penyuluh pertanian hadir untuk membantu petani dalam mengembangkan atau menata ulang perilakunya agar menjadi petani yang modern, tangguh dan efisien. Untuk itulah seorang tenaga penyuluh harus memiliki beberapa sifat, antara lain :
a. Mencintai tugas yang diembannya;
b. Layak dipercaya dan memberikan perhatian kepada sasaran penyuluhan;
c. Memiliki keyakinan bahwa apa yang disuluhkan dapat diterima sebagai upaya untuk meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani/peternak serta merupakan bagian dari pembangunan pertanian;
d. Menguasai kemampuan komunikasi, ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian;
e. Luwes, berpenampilan menarik, berperilaku baik, dan cepat beradaptasi;
f. Beritikad baik, sabar dan tekun;
g. Pandai menyelami jiwa atau perasaan serta keinginan para petani/peternak serta selalu siap memberikan bantuan dan pelayanan;
h. Memiliki disiplin kerja yang kuat (selalu ada jika dibutuhkan petani-peternak);
i. Jiwa mendidik, tidak cepat putus asa, tidak bersikap masa bodoh terhadap sesama dan lingkungan;
j. Dinamis, progresif dan demokratis;
k. Mau belajar, melatih ketrampilan dan kecakapan praktis sesuai perkembangan;

Berdasarkan tugasnya, maka penyuluh pertanian dibedakan atas :
a. Penyuluh yang langsung berhubungan dengan para petani/peternak. Contoh; Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Penyuluh Pertanian Madia (PPM).

b. Penyuluh yang tidak langsung berhubungan dengan para petani/peternak. Umumnya terdiri dari dari para ahli pertanian/peternakan, contoh; pegawai pada Dinas Pertanian, atau instansi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan pertanian; Balai Benih, BPTP, Bank, Perguruan Tinggi dan lainnya.

@. Materi Penyuluhan Pertanian
Dalam proses komunikasi pertanian, antara penyuluh dengan sasaran penyuluhan, akan disampaikan segala hal menyangkut ilmu dan teknologi pertanian-peternakan yang kesemuanya itu disebut sebagai materi penyuluhan. Sehingga materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan pertanian.
Ilmu bersifat teori dan dengan bantuan ilmu petani dapat memikirkan segala sesuatu yang relevan dengan kondisi usahatani yang sedang dijalankan, sedangkan teknologi bersifat praktek yakni berupa penjabaran atau apa yang harus dilakukan dari apa yang telah dipikirkan. Oleh karena itu, materi penyuluhan haruslah sesuai dengan kebutuhan sasaran penyuluh (petani-peternak) sehingga dengan demikian sasaran penyuluhan akan memiliki perhatiannya dan termotivasi untuk mempraktekkannya. Dalam bahasa teknik penyuluhan pertanian, materi penyuluhan seringkali disebut sebagai informasi pertanian (Berisi data atau bahan yang dibutuhkan penyuluh, petani-peternak dan masyarakat tani).
Agar penyuluhan itu dapat diterima dan dimanfaatkan oleh sasaran penyuluhan, maka syarat-syarat materi penyuluhan yang dibuat haruslah :
a. Sesuai dengan tingkat kemampuan sasaran, sehingga dapat dipraktekkan,
b. Memiliki resiko kegagalan yang relative kecil dan biaya rendah.
c. Mudah dilakukan dan bersifat praktis.
d. Tidak bertentangan dengan tata adat, kepercayaan dan pola pertanian-peternakan yang telah terbiasa dilakukan (tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang ada),
e. Memberikan keuntungan secara nyata bagi sasaran penyuluhan (Berpengaruh positif terhadap tingkat kehidupan petani/petrenak),
f. Mengesankan dan memotivasi petani/peternak untuk melaksanakan perubahan dan cara pikir, cara kerja dan cara hidup menuju perkembangan dan kemajuan,
g. Menggairahkan para petani/peternak sehingga mereka seakan-akan terbujuk untuk selalu mau memperhatikan, menerima, mencoba dan melaksanakan/menerapkannya dalam usahanya.

Selain itu, kegiatan penyuluhan dapat berisikan beberapa materi seperti :
• Pengalaman Þ misalnya pengalaman petani yang sukses mengembangkan komoditas tertentu.
• Hasil pengujian/hasil penelitian
• Keterangan pasar.
• Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Sebuah materi penyuluhan yang baik haruslah dapat diukur kelayakannya, yaitu :
• Secara ekonomi menguntungkan
• Secara teknis dapat diterapkan
• Secara sosial dapat dipertanggungjawabkan
• Tidak merusak lingkungan
Þ Tercipta better living, better farming, better business, dan better environment

@. Metode Penyuluhan Pertanian
Untuk mencapai tujuan kegiatan penyuluhan secara baik dan terarah, diperlukan metode atau cara-cara penyuluhan pertanian yang bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan sehingga para petani-peternak dapat “menolong dirinya sendiri”, mengubah memperbaiki pola pikir, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.

Dalam kegiatan penyuluhan kita mengenal ada 3 metode pendekatan penyuluhan, yaitu :
a. Metode pendekatan perorangan (personal approach method)
Melakukan hubungan atau pendekatan secara langsung dengan sasaran yaitu seorang petani, biasanya dilakukan secara berdialog langsung, melakukan kunjungan ke rumah, sawah/ladang/padang/kandang, surat menyurat, melalui telepon, dll. Metode ini sangat efektif, tetapi akan banyak menyita waktu dan energi.
b. Metode pendekatan kelompok (Group approach method)
Dilakukan terhadap kelompok tani dimana para petani diajak dan didampingi serta diarahkan secara berkelompok untuk melaksanakan suatu kegiatan yang tentunya lebih produktif atas dasar kerja sama, dengan saling tukar pendapat dan pengalaman, demonstrasi, kursus,karyawisata, perlombaan kelompok, dan lainnya yang sifatnya kelompok. Metode ini biasanya lebih berdaya guna dan hasilnyapun akan lebih mantap.
c. Metode pendekatan massal (mass approach method)
Penyuluhan dengan metode ini dapat menggunakan media surat kabar, majalah atau brosur pertanian-peternakan, radio, televisi, film, slide dan media lainnya. Dipandang dari segi penyampaian informasi memang metode ini baik, akan tetapi dipandang dari keberhasilannya adalah kurang efektif karena pada dasarnya hanya dapat menimbulkan tahap kesadaran dan tahap minat pada para petani/peternak pendengar penyuluhan, itupun kalau pendekatan-pendekatannya dapat dilakukan dengan baik, dapat menarik perhatian para petani/peternak kepada sesuatu hal yang lebih menguntungkan.

Sedangkan menurut mekanisme diterimanya materi/isi penyuluhan oleh para petani/peternak, maka metode penyuluhan dapat dibedakan atas:
a. Metode yang dapat didengar, yaitu pesan-pesan penyuluh akan diterima petani/peternak melalui pendengaran. Misalnya percakapan tatap muka, telepon, radio, tape recorder, pidato, ceramah dan lainnya.
b. Metode yang dapat dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh dapat dilihat atau diterima melalui penglihatannya. Misalnya pesan dalam bentuk gambar, spanduk/poster, leaflet, brosur, film bisu, pameran tanpa penjelasan vocal, slides dan lainnya.
c. Metode yang dapat di dengar dan dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh disampaikan melalui peragaan yang disertai petunjuk-petunjuk lisan, gambar di televisi, film bersuara, telepon bergambar, karyawisata, demonstrasi dan lainnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan metode penyuluhan :
• Tidak ada satu metode penyuluhan yang dianggap lebih baik dibanding metode penyuluhan yang lainnya
• Pada umumnya dalam pelaksanaan penyuluhan digunakan beberapa metode
• Dalam kegiatan penyuluhan sebaiknya digunakan materi visual dan tertulis

Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diketahui dalam metode penyuluhan, adalah sebagai berikut :
• Pengembangan untuk berpikir kreatif
• Dilakukan di lingkungan kerja/kegiatan sasaran
• Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya
• Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan
• Menciptakan hubungan yang akrab dengan sasaran

@. Sasaran Penyuluhan Pertanian
Sasaran penyuluhan pertanian yaitu siapa sebenarnya yang akan disuluh atau ditujukan kepada siapa penyuluhan tersebut. Sehingga dalam konteks yang demikian, sasaran penyuluhan pertanian adalah para petani/peternak beserta keluarganya.

Sasaran penyuluhan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

 Sasaran utama
• Petani dan keluarganya
• Langsung terlibat dalam kegiatan
• Petani: tidak bodoh; mempunyai harga diri; memiliki banyak pengalaman; menjunjung norma, adat istiadat, dll.; memerlukan bukti nyata
• Perlu dilakukan identifikasi sebelum melaksanakan penyuluhan

 Sasaran penentu

• Tidak terlibat langsung/bukan pelaksana kegiatan bertani, tetapi secara langsung /tidak langsung terlibat dalam penentuan kebijakan dan/atau menyediakan kemudahan-kemudahan pelaksanaan dan pengelolaan usahatani
• Pimpinan lembaga pertanian, peneliti/ilmuwan, lembaga perkreditan, pedagang, produsen dan penyalur saprodi-alsintan, pengusaha/industri pengolahan hasil pertanian

 Sasaran Pendukung
• Secara langsung atau tidak langsung tidak memiliki hubungan dengan kegiatan pertanian tetapi dapat dimintai bantuan guna kelancaran penyuluhan pertanian
• Pekerja sosial, seniman, biro iklan, konsumen hasil pertanian

Menurut ROGERS berdasarkan hasil penelitiannya, menyebutkan sifat-sifat umum yang dimiliki oleh masyarakat desa:
b. Mutual distrust in interpersonal relation
Pada umumnya mereka kurang saling merasakan dalam pergaulan diantara mereka sendiri. Para petani lainnya jarang melakukan pendekatan, mencari informasi nyata kegiatan dari petani lain yang maju, bahkan kemajuan petani lain dianggap melakukan hal yang “bukan-bukan”.
c. Lack and difficult to innovate new ideas and technology
Sulit dan sangat kekurangan daya untuk mendapatkan paham/ide-ide baru, pada umumnya para petani/peternak selalu tertutup sehingga tidak mampu menemukan ide-ide baru bahkan untuk menerapkan cara-cara baru yang masuk ke dalam masyarakatnya harus melalui beberapa tahapan dan baru akan menerimanya setlah nyata keyakinannya bahwa akan menguntungkan.
d. Lack thinking for the future (fatalism)
Kurang kemampuannya untuk memikirkan kehidupannya di masa depan. Segala sesuatu hanya terpikirkan untuk masa sekarang, soal masa depan adalah soal nanti. Kurang ada usaha untuk memecahkan masalah dan terlalu menitik beratkan pada nasib.
e. Low aspirational level
Motivasinya untuk memikirkan peningkatan atau perbaikan pada yang sekarang dialami adalah rendah, demikian pula aspirasinya untuk meningkatkan taraf hidupnya.
f. Lack of deffered to gradification
Umumnya mereka kurang dapat mengekang nafsu, tidak dapat menahan diri terhadap sesuatu yang diinginkannya, kurang cermat dan tidak mampu mengambil keputusan yang menguntungkan.
g. Limited time expected
Umumnya mereka kurang dapat membedakan apa yang kini sedang mereka hadapi, yang sudah terjadi dan apa yang mungkin bakal mereka hadapi. Kenangan masa lampau sangat berbekas pada diri mereka, sehingga perencanaan untuk masa depan tidak diperhatikannya.
h. Familism
Jalinan dengan keluarga sendiri sangat erat sehingga kerapkali jalinan dengan orang lain terabaikan, terutama dalam hal saling koreksi. Dalam masyarakat yang menganut sistem marga selalu terdapat kecurigaan terhadap mereka yang bukan sanak.
i. Dependent upon government authority
Pembuatan sarana-sarana yang menunjang dan melancarkan usaha pertanian/peternakan (irigasi, jalan, jembatan, dll) menurut anggapan kebanyak mereka merupakan kewajiban dari pejabat penguasa (pemerintah).
j. Local likeness
Sifatnya sangat lokal, gerakannya dalam masyarakat demikian terbatas sehingga kebanyakan dari mereka kurang mengetahui perubahan-perubahan keadaan yang beralangsung diluar lingkungannya.
k. Lack of impaty
Umumnya kurang mampu untuk mengetahui dan menempatkan diri dalam kemauan/kehendak orang lain sehingga seringkali sulit untuk berkomunikasi.

Beberapa istilah sasaran penyuluhan dalam penyuluhan pertanian:
– Petani naluri adalah petani yang cara usahanya masih seperti yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
– Petani maju adalah petani yang telah menerapkan teknologi baru dalam usaha atau kegiatan-kegiatan bertaninya dan bersikap maju (progresif).
– Petani teladan adalah petani yang usahanya dicontoh oleh para petani lainnya di lingkungannya, akan tetapi mereka itu sendiri tidak/kurang aktif dalam penyebarluasannya.
– Kontak Tani merupakan petani-petani teladan yang aktif/berperan serta dalam usaha menyebarluaskan teknologi baru kepada para petani di desanya.

@. Media Penyuluhan Pertanian

Menurut bentuknya dibedakan (Samsudin) :
a. Media visual : madia yang sifatnya dapat dilihat (slide, transparansi, gambar mati)
b. Media audio : media yang sifatnya dapat didengar (radio, peta didengar)
c. Media audio visual : media yang sifatnya dapat didengar dan dilihat (televisi, film)
d. Media tempat memeragakan (papan tulis, papan tempel, OHP, papan planel)
e. Media pengalaman nyata atau media tiruan (simulasi, contoh benda nyata)
f. Media cetakan (bukubacaan, leaflet, folder, poster, brosur)


@. Waktu Penyuluhan Pertanian
Untuk melakukan pendekatan-pendekatan haruslah diketahui waktunya yang tepat, sebab pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara serampangan maka salah-salah penyuluh akan mendapat penerimaan yang kurang baik sehingga maksudnya tidak kesampaian. Penyuluh harus mengetahui:
a. Kapan para petani/peternak ada di lapangan, aktif bekerja,
b. Kapan para petani/peternak ada dirumah, bersantai-santai dengan keluarga,
c. Kapan para petani/peternak brkumpul disuatu tempat, bersantai berbincang-bincang mengemukakan berbagai berita dan masalah.
Dengan mengetahui waktu-waktunya itu maka para penyuluh dapat melancarkan metode-metode penyuluihannya yang tepat.

PENUTUP

Kesimpulan.
• Unsur-unsur penyuluhan pertanian yaitu semua unsur (faktor) yang terlibat, turut serta atau diikutsertakan dalam kegiatan pnyuluhan pertanian, antara unsur yang satu dengan unsur yang lain tidak dapat dipisahkan karena smuanya tunjang-menunjang dalam satu aktivitas.
• Penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas memberikan dorongan kepada para petani agar mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidupnya yang lama dengan cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pertanian yang maju.
• Sasaran penyuluhan peternakan yaitu siapa sebenarnya yang disuluh atau ditujukan kepada siapa penyuluhan peternakan tersebut. Sehingga para petani/peternak beserta keluarganya merupakan sasaran penyuluhan peternakan.
• Metode penyluhan merupakan cara-cara yang dapat digunakan dalam menyuluh yang harus bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan, sehingga para petani dapat “menolong dirinya sendiri”, mengubah memperbaiki pola pikir, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.
• Dalam proses komunikasi antara penyuluh dengan saasaran penyuluhan, akan disampaikan segala sesuatu yang menyangkut ilmu dan teknologi pertanian-peternakan, kesemuanya itu disebut materi penyuluhan.
• Media penyuluhan yaitu saluran yang dapat menghubungkan penyuluh dengan petani yang memerlukan penyuluhannya.

@. Latihan
1. Jelaskan setiap unsur-unsur penyuhan peternakan?
2. Jelaskan kapan suatu media dikatakan baik dan layak dijadikan media penyuluhan?
3. Jelaskan sifat-sifat masyarakat desa menurut ROGERS!




DAFTAR PUSTAKA

Pembangunan Indonesia : Menyongsong Abad XXI. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta.

Hanafi, A. 1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Usaha Nasional. Surabaya.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan : Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Samsudin, U. 1997. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Binacipta. Bandung.

Subekti, S. 2007. Penyuluhan Pertanian. Laboratorium Komunikasi dan Penyuluhan. Jember.

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Van Den Ban dan Hawkin, 1999, Penyuluhan pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Vitayala, A, Prabowo Tjitropranoto, dan Wahyudi Ruwiyanto. 1992. Penyuluhan.

Sabtu, 13 Februari 2010

IDENTIFIKASI MANFAAT DAN RESIKO PEMBANGUNAN DI PROPINSI NTT (Studi kasus Kota Kupang dan Sekitarnya)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang.

Sejak manusia mengenal peradaban ribuan tahun yang lalu, manusia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Peningkatan kualitas hidup tidak lain merupakan usaha untuk mendapatkan “ kenyamanan hidup”. Kenyamanan hidup yang dimaksudkan selain untuk dapat dinikmati oleh dirinya sendiri pada saat masih hidup, juga diharapkan dapat diberikan atau diwariskan kepada generasi selanjutnya. Usaha untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tidak akan pernah berhenti sampai akhir zaman nanti.
Dalam usahanya untuk meningkatkan “kenyamanan hidup”, manusia selalu berupaya dengan segala daya untuk mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia demi tercapainya kualitas hidup melalui berbagai kegiatan pembangunan yang diinginkan. Kekayaan yang tersembunyi dalam komponen sosial berupa akal-pikiran dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan cara pencapaian sasaran tersebut.
Melalui akal pikiran, manusia menciptakan sesuatu yang baru untuk digunakan bagi kesejahteraan dirinya. Di satu sisi berbagai kegiatan pembangunan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan jaman yang terus berkembang seiring perjalanan waktu dan IPTEK, disamping merupakan kontribusi terbesar bagi pembangunan suatu negara atau daerah. Sedangkan di sisi lain, berbagai kegiatan pembangunan sangat kurang memperhatikan prinsip–prinsip pengelolaan lingkungan hidup, sehingga mengakibatkan terjadinya banyak kejadian negatif . Menyikapi hal tersebut, tentunya diperlukan suatu kajian atau analisis mengenai berbagai dampak lingkungan yang ditimbulkan dari kegiatan pembangunan.

Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasikan berbagai dampak positif dan negatif dari suatu kegiatan pembangunan, yang nantinya dapat digunakan sebagai suatu indikator untuk menilai apakah pembangunan itu memberikan keuntungan ataukah kerugian.


BAB II
PEMBAHASAN
IDENTIFIKASI BERBAGAI KEGIATAN DAN DAMPAK SUATU PEMBANGUNAN


1. Pembangunan Pub / Diskotik / Tempat Hiburan, Toko, Rumah Makan, dan Hotel di
Kawasan Sekitar Pesisir Pantai.

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
 Media Promosi Daerah.
 Media rekreasi dan berbelanja.
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Mendorong banyak investasi.
 Meningkatkan perekonomian (arus barang dan jasa).
 Memunculkan banyak industri rumah tangga baru (New Home Industri).


DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Kurangnya sarana rekreasi gratis.
 Tempat mangkal para wanita tuna sosial ilegal.
 Kerusakan ekosistem pantai (pencemaran).
 Mempercepat terjadinya abrasi pantai.
 Bertentangan dengan rencana tata ruang (Jalur hijau).



2. Rumah Potong Hewan Kota Kupang.

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 RPH Resmi Yang Menghasilkan Daging (ASUH).
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Mencegah Pemotongan Hewan Yang Tidak Terkontrol.
 Mencegah Pemotongan betina yang masih produktif.
 Dekat Dengan Lokasi Pemasaran Daging.
 Meningkatkan perekonomian (arus barang dan jasa).
 Memunculkan industri rumah tangga baru (New Home Industri).


DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Merusak Ekosistem Pantai (Pencemaran).
 Merusak Terumbu Karang dan Pohon Bakau di Sekitar Peraitan (Laut Oeba).
 Menimbulkan Penyakit polusi udara, Diare, Muntaber, dll.
 Mempercepat terjadinya abrasi pantai.
 Memusnahkan sumber daya lain yang mungkin terdapat di daerah tersebut.


3. Hutan dan kegiatan Eskploitasi.
(Eksploitasi vegetasi Hutan). (Contoh : Hutan Negara Wemer - Belu).

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Mendukung pembangunan melalui kayu yang dihasilkan dari hasil pemotongan.
 Menjaga kehidupan Plasma Nutfah hewan langka (Kus-Kus,Rusa, dll).
 Media rekreasi.
 Sebagai Paru–Paru yang dapat mempengaruhi Iklim atau Sumber Oksigen.
 Sumber Mata Air.
 Mengurangi Polusi.
 Media Penelitian.


DAMPAK NEGATIF (RESIKO)

 Mengurangi Daerah Hijau.
 Pencemaran Tanah.
 Kerusakan Ekosistem Darat Alami.
 Punahnya Plasma Nutfah.
 Hilangnya kawasan hutan wisata.
 Menyebabkan Erosi dan Banjir.
 Meningkatnya CO2.
 Hilangnya Sumber Mata Air.
 Mendukung Kemarau yang panjang.
 Menyebabkan kelaparan yang berkepanjangan.



4. Angkutan Kota dan variasi Audio.
(Contoh : Audio Angkutan Kota Kupang).

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Media rekreasi.
 Sarana Transportasi.
 Pertumbuhan Ekonomi (Arus Barang dan Jasa).
 Keunggulan Komparatif Daerah.
 Mengatasi Hambatan akses akibat kekurangan transportasi.

DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Masyarakat yang bermukim di sekitar jalan akan terganggu (kebisingan).
 Menimbulkan Penyakit : Tuli, dll.
 Memicu kekerasan akibat kesalahpahaman.
 Mengganggu konsentrasi terutama untuk beribadah.


5. Pendirian pabrik – pabrik
(Contoh : PT. SEMEN Kupang, PT. AQUAMOR, PT VIQUAM, dll).


DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Mengatasi Pengangguran.
 Meningkatkan perekonomian (arus barang dan jasa).
 Penyerapan investasi.
 Media Promosi Daerah.
 Mengurangi biaya penerimaan masyarakat atas pembelian barang karena
produksi dan tempat pemasaran masih dalam satu wilayah.

DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Ruang gerak masyarakat sekitar semakin sempit dan terancam kehilangan mata
pencaharian utama.
 Menimbulkan Pencemasaran Udara (Asap Pabrik).
 Menimbulkan penyakit : TBC, ASMA, Batuk, dll.
 Menurunkan kenyamanan hidup.
 Menimbulkan pencemaran tanah (limbah plastik, dll)
 Memusnahkan sumber daya yang mungkin terdapat di daerah tersebut



6. Penambangan Marmer dan bahan galian C lainnya
(Contoh Kasus : Fatuleu-Kab. Kupang ;Mollo – Kab Timor Tengah Selatan).

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Menarik banyak investasi.
 Meningkatkan perekonomian (arus barang dan jasa).
 Media Promosi dan keunggulan komparatif Daerah.
 Mengatasi Pengangguran.
 Bahan baku pembuatan keramik.


DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Ruang gerak masyarakat sekitar semakin sempit dan terancam kehilangan mata
pencaharian utama.
 Berkurangnya Tempat pemujaan bagi masyarakat lokal.
 Pencemaran Udara.
 Kerusakan Vegetasi Tumbuhan.
 Memusnahkan sumber daya yang mungkin terdapat di daerah tersebut.
 Mempercepat kerusakan Jalan (Bobot Muat Kendaraan melebihi rata– rata
yang diijinkan).


7. Penggunaan zat kimia pada tanaman di lahan-lahan pertanian

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan Prod Pertanian dalam jumlah yang banyak dan waktu yang singkat.
 Penyerapan Tenaga Kerja.
 Peningkatan pendapatan Petani.
 Mempercepat perekonomian (pertukaran arus barang dan jasa)
 Memunculkan banyak industri pengolahan hasil.
 Media Penelitian / Uji coba teknologi.
 Media Pembelajaran.

DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Mematikan mikroorganisme atau jasa renik di tanah..
 Berkurangnya kualitas unsur hara tanah.
 Membuat lahan menjadi kritis.
 Menimbulkan penyakit kanker atau tumor ganas.
 Memusnahkan sumber daya yang mungkin terdapat di sekitar daerah tersebut.
 Menimbulkan efek resisten terhadap tanaman.


8. Introduksi Ternak Sapi Brahman Dari Australia ke Wilayah Propinsi NTT

DAMPAK POSITIF (MANFAAT)

 Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 Meningkatkan Produksi Daging.
 Penyerapan tenaga kerja.
 Menarik banyak investasi.
 Meningkatkan pendapatan masyarakat petani peternak.
 Memunculkan home industri misalnya pembuatan daging sei, dendeng, abon.


DAMPAK NEGATIF (RESIKO)
 Memusnahkan bangsa asli yg adaptif dengan kondisi iklim dan sosbud masy.
 Kemungkinan munculnya penyakit baru akibat migrasi dari daerah asal ternak.




BAB III
PENUTUP


Berbagai kegiatan pembangunan yang bertujuan untuk mendayagunakan daerah pantai, kawasan darat dan kawasan udara perlu dilanjutkan, asalkan tanpa merusak mutu serta kelestarian lingkungan hidup. Dengan kata lain meminimalkan berbagai pengaruh negatif akibat pendayagunaan tersebut melalui berbagai cara yang sekiranya tidak mengganggu ekosistem ataupun sumber daya lain yang sudah ada di tempat tersebut.

Berbagai masalah lingkungan yang dihadapi saat ini adalah masalah yang dipandang dari sudut kepentingan manusia. Oleh karena itu prinsip–prinsip pembangunan berwawasan lingkungan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap aktivitas pembangunan manusia sampai kapanpun, mengingat keterbatasan sumber daya alam akibat kegiatan pembangunan (eksploitasi SDA yang semakin menggila tanpa analisis yang komprehensif dan upaya mengatasi). Selain itu pembangunan berwawasan lingkungan perlu untuk memelihara keutuhan fungsi tatanan lingkungan agar sumber daya alam dapat secara berlanjut menopang proses pembangunan di Propinsi NTT.








DAFTAR PUSTAKA


Supardi, I, Prof. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Penerbit PT ALUMNi Bandung. Jawa barat.

Daryanto,DRS. 1995. Ekologi Dan Sumber Daya Alam. Penerbit TARSITO Bandung. JAWA BARAT.

Daryanto,DRS. 1995. Masalah Pencemaran. Penerbit TARSITO Bandung. JAWA BARAT.

Wardhana,W.A.1999. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit ANDI OFFSET. YOGYKARTA.

Rabu, 07 Oktober 2009

KEBIJAKAN INTRODUKSI SAPI BRAHMAN DARI AUSTRALIA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENGEMBANGAN PETERNAKAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Latar Belakang.

Salah satu determinan keberhasilan pembangunan adalah tersusunnya rencana pembangunan secara baik lewat berbagai kebijakan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini telah dibuktikan melalui rangkaian kegiatan pembangunan di Indonesia dari waktu ke waktu sampai saat ini dengan dikeluarkannya Undang – undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.

Seiring dengan penerapan Undang – undang Otonomi Daerah tersebut, maka di bidang peternakan sebagian besar kewenangan pembangunan peternakan terutama tugas operasional menjadi urusan desentralisasi di Kabupaten / Kota.

Hal ini menyebabkan kewenangan kabupaten / kota dalam menjalankan desentralisasi di bidang peternakan menjadi begitu luasnya tanpa pertimbangan atau kajian yang obyektif dan rasional, sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini telah melahirkan berbagai persoalan baru berkaitan dengan kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia ke beberapa Kabupaten di daratan Timor, Flores dan Sumba untuk alasan perbaikan mutu genetik ternak Sapi lokal kita.

Pertanyaannya adalah : Bagaimana dampak / efek breeding kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia terhadap pengembangan peternakan di Provinsi NTT ? dan sesungguhnya apa tujuan yang ideal dari kebijakan introduksi Sapi Brahman ke wilayah Provinsi NTT ?

Tulisan ini secara umum akan membahas beberapa pemikiran seputar dampak / efek breeding kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia ke wilayah Provinsi NTT serta berbagai strategi pengembangan peternakan NTT dalam kerangka Otonomi Daerah menuju kondisi ketangguhan.

Tujuan.

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk :

1. Mengkaji berbagai pemikiran yang berhubungan dengan pengembangan peternakan di Provinsi NTT dalam kaitannya dengan kebijakan intoduksi Sapi Brahman dari Australia.

2. Mengidentifikasi serta merumuskan berbagai strategi alternatif pengembangan peternakan di Provinsi NTT.

Manfaat.

Diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat :

1. Sebagai sumber informasi dan pengetahuan menyangkut dampak kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia terhadap pengembangan peternakan di Provinsi NTT.

2. Sebagai tambahan informasi dan pengetahuan dalam Mata Kuliah Pemuliaan Ternak Potong Lanjutan.

A. Sejarah Singkat Pembangunan Peternakan di NTT.

Menengok sejarah pembangunan peternakan, berbagai jenis ternak secara tradisional telah dipelihara dan diusahakan oleh masyarakat khususnya petani – peternak di NTT. Khusus untuk ternak sapi, sejarah mencatat bahwa NTT pernah dijuluki sebagai gudang ternak karena menjadi sumber ternak sapi bibit dan sapi potong bagi daerah lain di Indonesia, bahkan pernah mengekspor ternak Sapi dan Kerbau ke hongkong dan singapura sampai tahun 1977 (Anonimous,2001).

Dengan mempertimbangkan kondisi fisik geografis, maka atas prakarsa pemerintahan Hindia Belanda, pada awal abad ke 20, tepatnya tahun 1912 dikembangkanlah tiga bangsa sapi tropis yaitu Sapi Bali di Timor, Sapi Madura di Flores dan Sapi Ongole di Sumba. Pada dasarnya tujuan utama pemasukan Bangsa Sapi tersebut adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Lawalu, 1998).

Hal ini bukanlah merupakan sesuatu yang mustahil, karena selain budaya memelihara ternak oleh masyarakat yang mendiami Provinsi NTT sudah menjadi tradisi turun – temurun juga karena ditunjang oleh adanya keunggulan dari aspek fisik wilayah baik Klimatik (Iklim), Edafik (Tanah dan Air), maupun Biotik (Flora dan Fauna).

Lawalu, 1998 menyatakan bahwa dalam perjalanan waktu, terbukti bahwa perkembangan Sapi Bali di Timor lebih baik ketimbang Sapi madura di Flores juga Sapi Ongole di Sumba. Menyadari akan potensi tersebut di NTT, pemerintah pusat & pemerintah propinsi selama PJP I telah banyak memberikan bantuan dalam rangka usaha pembangunan ekonomi regional. Berbagai teknologi diperkenalkan seperti penggemukan Sapi dan kawin Suntik (Artifisial Insemination).

Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa memasuki PJP II, pilihan pengembangan peternakan dengan pola Agribisnis, suatu pendekatan yang bersifat terpadu mulai digunakan. Adapun tujuan penggunaan pendekatan ini adalah dalam rangka lebih memacu pembangunan peternakan di Provinsi NTT guna mendorong peningkatan pendapatan serta perluasan kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan.

Di era reformasi, dengan dikeluarkannya kebijakan Otonomi Daerah ternyata telah berdampak pada semakin terbatasnya kewenangan Propinsi sebagai daerah Otonom. Segala urusan lebih banyak berhubungan langsung dengan Kabupaten / Kota. Harusnya penerapan Otonomi Daerah ini, dalam perspektif pembangunan peternakan sepantasnyalah dijadikan Sebagai “leading sector” yang menunjang pembangunan di Provinsi NTT dengan berbagai kebijakan multi aspek. Hal ini karena peluang untuk berusaha pada sub sektor peternakan sangat besar dan memiliki prospek yang cerah di masa mendatang dengan penyebaran pada lapangan pekerjaan utama yakni 78,68 % yang bekerja di sektor pertanian. Ini berarti sektor pertanian adalah sektor yang paling dominan dalam menyerap tenaga kerja dan sangat berpotensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di Provinsi NTT. (Randu,dkk.2002).

Namun dalam kenyataannya, penerapan Undang – undang Otonomi Daerah dalam beberapa tahun terakhir ini pada sub sektor peternakan lebih banyak menimbulkan kontroversi terutama menyangkut perlu tidaknya melakukan kebijakan Introduksi Sapi Brahman dari Australia ke Wilayah Provinsi NTT.

Hal ini cukup menarik untuk dicermati dan dibahas dalam makalah ini, karena berbagai argumentasi yang dibangun baik itu lewat berbagai diskusi maupun melalui media massa beberapa saat yang lalu sampai dengan saat ini masih menimbulkan tanda Tanya besar.

B. Bangsa - Bangsa Ternak Sapi di NTT.

Sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia lainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu (Pane,1993).

Di provinsi NTT terdapat 3 (tiga) bangsa ternak sapi yang sudah adaptif dengan aspek fisik wilayah daerah ini antara lain : Sapi Bali, Sapi Madura dan Sapi Ongole. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini didatangkan juga Sapi Brahman dari Australia dalam bentuk kebijakan pemerintah Kabupaten / Kota maupun dalam bentuk sumbangan dari para pengusaha untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (Pos Kupang Edisi 17 Desember 2004).

@. Sapi Bali.

Merupakan breed Sapi asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (Bos sondaicus). Sapi ini mempunyai potensi penampilan produksi yang cukup tinggi. Populasinya pada tahun 1999 mencapai 27 % dari seluruh sapi potong yang ada di tanah air (Abidin, 2001). Di Provinsi NTT akibat adaptasi yang cukup lama dengan kondisi iklim setempat, masyarakat menyebutnya Sapi Timor.

@. Sapi Madura.

Merupakan hasil persilangan antara Bos sondaicus dan Bos indicus tetapi kurang jelas kapan terbentuknya (AAK, 2002). Sedangkan Pane, 1993 menyatakan bahwa Sapi Madura diduga sama seperti Sapi Jawa dan berasal dari keturunan Zebu dan Banteng. Di Indonesia populasinya mencapai 12 % tetapi penyebarannya tidak semerata Sapi Bali. Jenis sapi ini banyak diternakkan di Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur.

@. Sapi Ongole.

Merupakan keturunan Sapi Zebu dari India (Bos indicus). Di negara asalnya Sapi ini termasuk jenis yang populer. Sapi Ongole pertama kali dimasukkan di NTT oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1912 ke Pulau Sumba dengan jumlah pejantan 42 ekor dan 496 betina serta 70 ekor pedet langsung dari India untuk selanjutnya diternakkan secara murni di Pulau Sumba, sehingga masyarakat menyebutnya dengan Sumba Ongole (Pigawahi,1986).

@. Sapi Brahman.

Adalah keturunan Bos indicus dan merupakan hasil persilangan antara Sapi Ongole (Bos indicus) dengan Sapi Eropa (Bos taurus) dengan perbandingan 90 % darah Ongole dan 10 % darah Eropa (AAK, 2002). Sapi ini dikembangkan di Amerika Serikat dan kemudian dieksport ke Australia untuk disilangkan dengan Sapi Asal Eropa. Di Provinsi NTT jenis Sapi ini awalnya didatangkan dalam bentuk Semen Beku dan beberapa tahun terakhir ini didatangkan dalam bentuk hidup melalui kebijakan Kabupaten/Kota yang sampai dengan saat ini masih meninggalkan kontroversi atas kebijakan tersebut.

C. Mutu Genetik dan Persoalannya.

Beberapa waktu terakhir ini, perbincangan tentang mutu genetik menjadi begitu hangatnya terkait kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia. Beberapa pihak menyatakan ini demi alasan perbaikan mutu genetik, sedangkan pihak lain menyatakan ini sebagai upaya peningkatan produksi melalui program penggemukan meskipun pada tataran aplikasi di lapangan semua ini menjadi sangat tidak nyata karena secara faktual di lapangan kita melihat ada kecenderungan menurunnya bobot tubuh dari sapi – sapi dewasa kita yang sampai saat ini hanya berkisar 250 – 300 kg.

Pellokila, 2003 menyatakan bahwa selain akibat ketidakmampuan daerah menyiapkan ternak – ternak sapi untuk mengimbangi permintaan akan produk asal hewani, mengakibatkan pemerintah daerah setempat menurunkan standart mutu ternak, misalnya untuk Sapi Potong dari tinggi pundak 105 cm menjadi 102 cm. Ironisnya banyak pula Sapi dengan berat badan 180 – 200 Kg dikeluarkan ke wilayah barat Indonesia karena kurangnya stok di lapangan. Hal ini belum termasuk pengantar pulauan dan pemotongan betina – betina produktif (Seleksi negatif).

Jika kita melihat data sensus ternak di akhir tahun 2000, ternyata menunjukkan bahwa populasi ternak di Provinsi NTT mengalami penurunan antara lain Sapi –33%, kerbau –23% dan Kuda –45 %. Selanjutnya untuk pemotongan ternak, cenderung terjadi peningkatan karena disesuaikan dengan kebutuhan untuk konsumsi lokal yang bertambah karena kenaikan penduduk serta daya beli masyarakat.

Berikut ini akan disajikan tabel jumlah populasi, jumlah pemotongan dan jumlah pengeluaran ternak Sapi di Propinsi NTT untuk periode tahun 1994 – 2000.

Tabel Jumlah Populasi, Pemotongan dan Pengeluaran Ternak Sapi di Provinsi NTT periode Tahun 1994 – 2000.

No

Tahun

Populasi Ternak (ekor)

Pemotongan Ternak (ekor)

Pengeluaran Ternak (ekor)

1

1994

786.295

19.767

70.905

2

1995

785.115

21.198

58.735

3

1996

782.467

22.692

54.935

4

1997

792.461

23.774

49.990

5

1998

725.704

23.948

119.699

6

1999

726.439

25.425

65.005

7

2000

486.323

26.261

52.022

Sumber : Dinas Peternakan,2000

Di satu sisi, dugaan adanya inbreeding yang begitu tinggi akibat kurangnya pengaturan perkawinan, dalam hal ini pemanfaatan pejantan juga menunjang terciptanya kondisi penurunan produksi dan produktivitas ternak Sapi di Prop NTT.

Warwick E.J, 1995 menyatakan bahwa Inbreeding / silang dalam adalah perkawinan antara ternak yang mempunyai moyang bersama dalam 4 sampai 6 generasi pertama dari silsilahnya. Pengaruh luar Inbreeding yang dianggap merusak telah diketahui sejak berabad-abad lalu dalam beberapa literatur yang secara jelas tidak merestui apabila inbreeding, sehingga berimbas pada larangan perkawinan antara keluarga dekat dalam masyarakat kuno.

Charles Darwin dalam buku “The Variation Of Plants and animals under domestication dalam Warwick, 1995 membuat pernyataan sebagai berikut : Akibat dari perkawinan dekat yang berlangsung dalam waktu lama adalah menurunnya ukuran, kekuatan (vigor) badan dan fertilitas, kadang-kadang diikuti dengan bentuk yang cacat.

Inbreeding inilah yang sebenarnya menurut penulis menjadi salah satu biang dari persoalan mutu genetik yang dirasakan dalam berapa tahun terakhir ini, disamping kebiasaan petani yang cenderung mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperbaharuinya, luasan lahan peternakan yang tidak merata serta padang penggembalaan dengan tingkat kepemilikan individu atau tanah adat sehingga ruang gerak ternak menjadi sempit. Hal ini ditunjang oleh pakan yang kurang memadai akibat musim kering yang cukup lama ( ± 8 bulan).

Sebuah pengkajian yang telah dilakukan di wilayah sumber bibit Sapi Bali yakni Sulawesi Selatan (Sulsel), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 1990 menemukan bahwa struktur populasi ternak Sapi di Wilayah ini sanggat tidak proporsional sehingga mengakibatkan kesulitan dalam memperoleh bibit dlm jumlah banyak. (Nada Kihe, 2006).

Sehingga sesungguhnya ada 2 (dua) persoalan besar dalam kaitannya dengan mutu genetik di Propinsi NTT yakni bahwa permintaan produk asal hewani belum mampu diimbangi dengan penyediaan ternak berkualitas. Selain itu manajemen sistem pemeliharaan ternak yang bersifat ekstensif adalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya inbreeding.

Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan peternakan di Provinsi Nusa tenggara Timur (NTT), maka permasalahan terbaru dan aktual adalah kebijakan introduksi ternak sapi Brahman yang diduga dapat mengubah struktur populasi maupun struktur genetik dari ternak Sapi lokal yang ada di provinsi NTT (Pernyataan Litik dalam Pos Kupang edisi 17 Desember 2004)

D. Efek Breeding dari Kebijakan Introduksi Vs Pemuliabiakan Ternak dalam Konteks Pengembangan Peternakan Di Provinsi NTT.

Dalam ilmu pemuliabiakan ternak khususnya ternak Sapi, ada beberapa alasan yang mendasari dilakukannya introduksi ternak dari luar antara lain : ketidakmampuan sub sektor peternakan menyediakan ternak lokal untuk mencukupi permintaan akan produk - produk asal hewani, disamping rendahnya kualitas dan kuantitas produk dari ternak lokal sehingga diperlukan adanya perbaikan dan peningkatan produktivitas ternak khususnya dalam hal perbaikan mutu lgenetik & perbaikan manajemen pemeliharaan (Abdullah,2003).

Nada Kihe, 2006 menyatakan bahwa kebijakan pemuliabiakan pada ternak ruminansia pedaging sampai saat ini belum memberikan hasil memadai dalam hal perbaikan genetik. Alasannya karena : Pemwilayahan daerah sumber bibit sama sekali tidak diikuti oleh pembinaan terhadap peternak serta belum adanya patokan harga ternak bibit yang mengakibatkan peternak dengan sistem peternakan yang semi intensif cenderung memilih Inseminasi Buatan untuk menghasilkan ternak komersial ; Penyebaran bibit dari sumber bibit ke wilayah pengembangan merupakan ternak yang dihasilkan oleh peternak ekstensif, yang nota bene bibit tersebut belum tentu memenuhi syarat bibit menurut pedoman standart ternak bibit di Indonesia baik yang ditetapkan sebagai standart Pertanian Indonesia Bidang Peternakan (SPI-NAK) maupun yang disepakati sebagai standart kesepakatan ; Introduksi bangsa luar (Exotic breeds) untuk persilangan dgn bangsa lokal, dari aspek genetik maupun non genetik dikatakan gagal. Dari aspek genetik kegagalan terjadi karena tahapan analisis genetik untuk mengetahui potensi dari sifat produksi ternak lokal belum pernah dilakukan. Sedangkan dari aspek non genetik, kondisi agroklimat, sosial ekonomi dan budaya masyarakat peternak berbeda dengan negara asal menyebabkan tidak terpenuihintya tuntutan lingkungan manajemen pemeliharaan ternak hasil persilangan.

Kebijakan introduksi Sapi Brahman ke wilayah NTT dalam bentuk ternak hidup sesungguhnya memiliki beberapa persoalan serius untuk dikaji dalam persepktif yang berbeda, yaitu :

1. Jika hipotesis yang dipakai bahwa ternak penyedia daging untuk kebutuhan konsumsi baik pada tataran kebutuhan lokal maupun kebutuhan nasional masih sangat kurang, maka kebijakan introduksi Sapi Brahman dapatlah diterima namun hanya digunakan untuk keperluan penggemukan saja (Ternak Niaga) dan tidak boleh untuk pembibitan. Hal ini harus diimbangi dengan aturan yang tegas khususnya PERDA menyangkut tujuan introduksi tersebut.

2. Jika hipotesis yang dipakai bahwa perbaikan mutu genetik menjadi persoalan serius yang harus diperbaiki dengan jalan menyiapkan persilangan untuk mendapatkan ternak bibit, maka kebijakan introduksi sapi Brahman dalam bentuk hidup bisa saja dilakukan namun penempatannya harus disesuaikan dengan pemwilayahan daerah sumber bibit agar tidak menimbulkan masalah kelak di kemudian hari. Namun dalam pandangan penulis, apakah tidak sebaiknya potensi ternak lokal yang selama ini ditinggalkan kita tingkatkan kembali tanpa harus mengintrodusir ternak dari luar NTT. Harusnya yang kita lakukan saat ini adalah menyediakan dana untuk kajian terhadap potensi genetik ternak – ternak lokal kita.

3. Jika hipotesis yang dipakai bahwa Introduksi Sapi Brahman kedepannya dapat digunakan untuk meningkatkan PAD demi kesejahteraan masyarakat, maka kebijakan ini sangatlah tidak populis. Hal ini disebabkan karena biaya untuk mendatangkan Sapi hidup tersebut sangatlah besar dan akhirnya tentu masyarakatlah yang menanggung beban kebijakan tersebut. Abdullah, 2003 menyatakan bahwa program mengimpor ternak, embrio transfer dan semen beku selama ini terbukti banyak menguras devisa negara. Disamping itu kemungkinan kita akan kehilangan kekayaan plasma nutfah jika terjadi persilangan yang kurang bahkan tidak terencana.

Selain itu ternak – ternak import begitu tiba di Inonesia akan mengalami berbagai stres (lingkungan, manajemen dan makanan) yang berakibat pada produksi yang rendah. Jika ternak itu di pelihara peternak di pedesaan, terjadi kompensasi khusus yang diperlukan oleh ternak tersebut dan itu tidak dapat diberikan oleh peternak dengan alasan ekonomi.

Ketika Introduksi Sapi Brahman dimasukkan ke wilayah Pulau Sumba tentunya efek breeding yang ditimbulkan mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena antara ke dua jenis ternak tersebut sama – sama masih merupakan keturunan Bos indicus. Begitupun ketika dimasukkan ke Pulau Flores sesungguhnya keterikatan keturunan juga bisa menjadi alasan untuk memasukkan Sapi Brahman ke sana. Namun sesungguhnya, jikalau melihat sejarah pengembangan peternakan khususnya pulau sumba yang ditetapkan sebagai pusat pembibitan sapi Ongole (Lawalu,1998), sangatlah berlebihan jika kita harus melakukan introduksi Sapi Brahman padahal masih banyak hal lain yang sangat penting daripada kebijakan introduksi.

Ketika Introduksi Sapi Brahman dimasukkan ke wilayah Pulau Timor untuk tujuan Penggemukan, maka efek breeding dari kebijakan tersebut sebenarnya tidak keliru dan sah saja. Akan tetapi ketika introduksi tersebut dilakukan untuk tujuan perbaikan mutu genetik melalui persilangan, tentunya efek breeding yang ditimbulkan menjadi sangat besar.

Hal ini karena antara ke dua bangsa ternak tersebut tidak merupakan satu keturunan dari Bos sondaicus, namun hanya merupakan satu spesies saja sehingga perkawinan antara kedua spesies Sapi tersebut memang dimungkinkan jika lingkungan mendukung, namun produksi yang dihasilkan tentu tidak memberikan hasil yang optimal (Jantan dari F1 mandul). Hal ini diperkuat Warwick, 1995 yang menyatakan bahwa dalam kejadian terjadinya persilangan antara Zebu (Bos indicus) X Banteng / Sapi Bali (Bos javanicus) maka keturunan yang dihasilkan untuk betina adalah fertil tetapi yang jantan steril.

E. Strategi Alternatif Pengembangan Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengembangan Peternakan Provinsi NTT menuju kondisi ketangguhan dapat terlaksana dengan baik apabila telah terjadi transfomasi struktural terhadap kondisi perekonomian wilayah. Secara nyata hal ini terjadi dalam bentuk perubahan tipologi usaha ternak di NTT dari suatu usaha sambilan menuju kepada mixed farming yakni sebagai suatu cabang usaha (Lawalu,1998).

Untuk itulah maka pengembangan peternakan Propinsi NTT di masa depan dalam kaitannya dengan kebijakan introduksi Sapi Brahman dari Australia sangat memerlukan beberapa konsep kebijakan terpadu dengan mempertimbangkan berbagai strategi alternatif dlm kerangka operasional OTDA antara lain :

* Melakukan kajian menyangkut struktur populasi dan komposisi darah ternak lokal di NTT serta analisis potensi genetik ternak lokal untuk menentukan jenis Sapi introduksi manakah yang layak dikembangkan di propinsi NTT.

* Merancang, membahas dan mengefektifkan peraturan –peraturan dalam bentuk PERDA dengan melibatkan stakeholders dalam dunia peternakan khususnya menyangkut kebijakan introduksi ternak dari luar wilayah propinsi NTT.

* Sebelum melakukan pengembangan usaha ternak di suatu tempat dengan tujuan memperoleh produktivitas yang optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki, maka faktor lingkungan harus menjadi pertimbangan dominan.

* Melakukan pembiakan untuk meningkatkan hasil jenis ternak lokal melalui program pemuliabiakan dengan seleksi yang ketat untuk keturunan yang asli, murni dan baik guna dikawinkan dengan ternak lokal yang telah lama beradaptasi dengan kondisi klimatik wilayah setempat.

* Peningkatan produksi ternak dan hasil – hasil ternak melalui optimalisasi sarana dan prasarana yang ada.

PENUTUP

Berdasarkan kajian tentang kebijakan introduksi Sapi Brahman dari australia dan dampaknya terhadap pengembangan peternakan di provinsi Nusa Tenggara Timur dapat disimpulkan bahwa kebijakan introduksi jika dilakukan untuk mengimbangi permintaan produk hewani yang tidak bisa disuplay oleh keberadaan ternak – ternak lokal di daerah NTT maka dapatlah dipahami. Tetapi jika kebijakan itu dilakukan untuk tujuan peningkatan / perbaikan mutu genetik, maka sangatlah relevan jika kebijakan itu perlu ditinjau kembali di kemudian hari dengan kajian yang lebih komprehensif disertai data – data empirik pendukung.

Namun sesungguhnya yang paling baik dari semua ini dalam kaitannya dengan pengembangan peternakan NTT masa depan menuju kondisi ketangguhan adalah pengoptimalan dan pemanfaatan potensi ternak - ternak lokal kita untuk mendukung dan menciptakan kondisi ketersediaan serta pemenuhan daging.

Satu hal lain yang juga perlu untuk dipikirkan saat ini adalah bagaimana mengubah pola sistem usaha tani masyarakat yang masih termasuk usaha sambilan menjadi sistim usaha tani terpadu (Mixed Farming) dengan ternak sebagai cabang usaha sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan peternak.

Dengan demikian masyarakat akan semakin tertantang untuk lebih berusaha pada sub sektor peternakan dan ini merupakan awal kebangkitan dari kemunduran dunia peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur selama ini.

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 2002. Petunjuk Beternak Sapi Potong dan Kerja. Penerbit Aksi Agraris Kanisius.Jogyakarta.

Abdullah,M.A.N, 2003. Kelenturan Fenotipik Ternak Sebagai respon Terhadap Lingkungan. Prosiding Institut Pertanian Bogor.

Abidin, Z, 2001. Penggemukan Sapi Potong. Penerbit Agromedia Pustaka,Jakarta.

Anonimous, 2001. Pembangunan Peternakan NTT dalam Era Otonomi Daerah. Materi Kuliah Kebijakan Pembangunan Peternakan. Fapet Undana. Kupang

Lawalu,F.H. 1998. Peternakan NTT dan perspektifnya di Abad ke-21. Dalam Boekan, V.J.(Penyunting) NTT Di Abad ke-21 BP-7 Dati I NTT, Kupang.

Nada Kihe,J. 2006. Pemuliaan Ternak Potong Lanjutan. Materi Kuliah Program Pasca Sarjana Undana. Kupang.

Noor,R.R. 2000. Genetika Ternak Cetakan Ke-3. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pane Ismed.1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Pellokila,C.M. 2003. Program Pengembangan Ternak Sapi Bali Timor Sebagai Komoditas Unggulan Dalam Perspektif Agribisnis. Makalah Seminar Pengembangan Peternakan Rakyat Dalam Perspektif Agribisnis. Kupang.

Pigawahi,A.1986. Produksi ternak Sapi Potong. Materi Kuliah Fapet Undana. Kupang.

Pos Kupang Edisi 17 Desember 2004. Warga NTT Mendapat Sumbangan Sapi Dari Pengusaha NTT.Kupang.

Randu, dkk.2002. Pembangunan Peternakan Nusa tenggara Timur dalam Era Otonomi Daerah. Makalah Kuliah Kebijakan Pembangunan Peternakan, Fapet Undana, Kupang.

Warwick E.J, 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.